LOCKDOWN DIRI BUKAN RASA KEMANUSIAANNYA
Oleh : Dinda Nur Zahira Natasya
Kita semua merasakan bahwa hadirnya keberadaan pandemi Covid-19 di Indonesia cukup menyulitkan kita dalam melakukan berbagi aktivitas. Kita dihimbau untuk melakukan bentuk pencegahan penularan wabah corona, seperti social distancing.
Bagi sebagian orang, hal itu mungkin biasa-biasa saja. Bisa jadi karena alasan, mereka memiliki tabungan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Tapi bagi sebagian orang lainnya, bisa jadi social distancing menjadi himbauan untuk meningkatkan angka kelaparan di Indonesia.
Kita mestinya menyadari dan peka bahwa di Indonesia, khususnya Kota Palu sendiri tidak semua masyarakatnya memiliki kesejahteraan ekonomi yg sama. Kalau orang-orang seperti bapak penjual tissue di jalanan atau ibu dari 4 orang anak yang mendorong gerobak sampah itu melakukan social distancing mau makan apa mereka besok?
Sementara untuk masyarakat menengah ke atas bisa tenang-tenang saja, kekhawatirannya paling hanya berputar di virus corona saja. Mereka bisa membeli kebutuhan pokok mereka hingga waktu 1 bulan.
Nah, kalau pejuang jalanan seperti pengemis, pemulung, abang gojek, penjual tissue tidak kerja sehari saja. Jangankan mau menyetok bahan pokok sehari-harinya, mau makan apa untuk besoknya aja dia bisa sampai nguras otak.
Sebagai anak muda yang mengaku generasi millenial, harusnya pada kondisi dan situasi seperti ini kita mesti lebih peka terhadap sesama. Betapa banyak program kebaikan bertebaran di tengah wabah corona di Kota Palu, tapi anak-anak muda memilih untuk tidak melakukan pergerakan sama sekali.
Namun saya yakin dan percaya bahwa setiap orang punya caranya masing-masing dalam berdampak. Sehingga daripada itu, diharapkan kepada seluruh kaum millenial kota Palu, untuk kita sama-sama melakukan sebuah aksi dari buah rasa empati kita. Rasa empati kita harusnya tidak berhenti pada fase "Hamma, kasian sekali le", tetapi lebih dari itu kita bisa terjung langsung atau bisa melakukan sebuah pergerakan kecil yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi orang-orang yang saat ini membutuhkan bantuan kita.
Seandainya kita menyadari bahwa yang membedakan atau memisahkan antara manusia dan hewan itu bukan ada atau tidaknya hati dan akal pikirannya. Tetapi karena kita sebagai manusia menggunakan akal dan hati nurani kita. Kalau ada yang lagi kesusahan, mari kita bantu.
Dalam agama Islam, kita senantiasa diajarkan bahwa "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain". Pertanyaannya adalah sudahkan Anda menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Jangan-jangan selama puluhan tahun kita hidup, kita cuek pada lingkungan sekitar dan mementingkan diri sendiri.
Lockdown diri tidak masalah asal tidak lockdown sedekah
"SAYA MENCINTAI ORANG BAIK YANG MELAKUKAN KEBAIKAN MESKIPUN SAYA BUKAN BAGIAN DARI MEREKA".

Keren...ini baru namanya anak muda, inilah pemudi Islam
BalasHapus