Spekulasi Berbahaya Di Tengah Wabah Covid 19
Oleh : Kanda Muh Hamdani Unok
Akhir - akhir ini seluruh dunia sedang di perhadapkan dalam suatu masalah pelik yaitu Corona Virus Deasese 2019 (COVID - 19), Penyakit ini pertama muncul di China tepat nya di daerah WUHAN yang menyebabkan negara - negara seluruh di dunia mulai mengisolasi dirinya dari negara lain. Menyebabkan begitu banyak kerugian baik kerugian fiskal maupun kerugian secara moneter. Seluruh negara berfokus bagaimana pencegahan Pandemi ini. Berita - berita menyiarkannya tanpa henti, kebijakan - kebijakan negara di berlakukan seiring dengan korban jiwa yang terus berjatuhan.
Di Indonesia tidak terlepas dari polemik Covid - 19 ini, yang berdasarkan data Konferensi Pers juru bicara Penanganan Korona Achmad Yurianto yang di liput oleh CNN Indonesia pada 3 April 2020 Pukul 15.43 WIB ; saat ini jumlah korban tercatat sdah mencapai 1986 yang Positif Corona ( Bertambah 196 orang), Data yang Meninggal Mencapai 181 ( Bertambah 11 orang) dan Jumlah Yang Sembuh mencapai 134 ( Bertambah 22 orang). Pandemi sangat berdampak pada perubahan Seluruh kebijakan dan Kehidupan Sosial bermasyarakat yang ada di Negeri ini, baik dalam Skala Pusat sampai di skala tiap Wilayah Mulai dari Peniadaan UN Penggelontoran dana untuk mengantisipasi Kemungkinan pasca Pandemi dan lain sebagainya Sementara itu untuk di Tiap wilayah mulai melakukan tindakan - tindakan Preventif, mulai dari pemeriksaan di tiap batas kabupaten sampai ada beberapa kepala wilayah yang sdah menutup total akses menuju daerahnya. Petugas - petugas kesehatan menjadi tokoh sentral dalam penanganan ini, mereka di tuntut untuk ada di garda terdepan merawat mereka yang positif terinfeksi, bahkan dengan alat yang sangat seadanya dikarenakan kelangkaan Alat Pelindung diri sehingga puluhan dari tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat ada yang positif terinfeksi hingga ikut meregang nyawa akibat Pandemi Covid - 19. Perguruan - perguruan tinggi pun melakukan tindakan pencegahan dari Penyakit Covid - 19 mulai dari penutupan kampus, peralihan tatap muka menjadi perkuliahan yang serba Daring (Online) sampai beberapa Perguruan Tinggi memberikan Kompensasi Pulsa bagi Mahasiswa - mahasiswanya. Semua di tujukan agar kegiatan perkuliahan tetap berjalan selama wabah terjadi.
Selain dari Pemerintahan, Tenaga Kesehatan dan Perguruan tinggi, Elemen - elemen masyarakat yang terlibat dalam menangani Pandemi ini, mulai kampanye agar tetap #dirumahaja yang di lakukan oleh artis - artis ibukota, menutup sementara tempat - tempat yang mempunyai potensi untuk bersosialisasi seperti Cafe, Rumah Makan, mall dan tempat - tempat keramaian yang lain, Bahkan MUI mengeluarkan kan Fatwa untuk beribadah di Rumah Masing-masing, selama Pandemi Berlangsung.
Di tengah wabah ini, muncul juga berbagai informasi dan narasi di sosial media. Baik berupa data - data yang ada bahkan sampai tulisan - tulisan yang spekulatif, seolah - olah telah menucul berbagai pakar dadakan yang bisa menilai bagaimana Wabah ini bisa terjadi. Ada yang mengatakan wabah ini adalah salah satu Strategi China dalam menguasai perang dagang, ada yang mengatakan Covid - 19 adalah salah satu Senjata Biologis, sampai pada ranah Covid - 19 adalah Misi segelintir golongan agar Manusia tidak beribadah lagi di Rumah Ibadah, yang hampir sebagian besar menyuruh masyarakat agar tidak terlalu memperdulikan tentang Covid - 19 karena ada konspirasi - konspirasi di balik Pandemi ini atau memberikan ketakutan yang berlebih-lebihan akibat dari Pandemi ini.
Narasi - narasi seperti ini, sedikit banyak mengarahkan masyarakat kepada sebuah kebingungan publik, dimana masyarakat kesulitan untuk memilih dan memilah informasi mana yang harus di ikut. Hal ini yang dinamakan Float Information (Banjir Informasi) dimana Informasi sdah terlalu banyak beredar masyarakat, sehingga masyarakat kesulitan memilah Mana Informasi Yang Fakta maupun yang Hoax. Sehingga fatalnya, muncul perdebatan yang meragukan pembagian informasi dari media - media kredibel di karenakan media itu di Curigai adalah alat propaganda segelintir golongan, atau masyarakat mengalami kondisi paranoid yang parah akibat informasi hoax yang berkembang, seperti kita lihat para tenaga medis yang mendapat tindakan diskriminasi dari lingkungan tempat tinggalnya, bahkan sampai ada mayat yang di tolak di makamkan oleh masyarakat karena mayat itu positif Covid - 19.
Terlepas dari benar atau tidaknya narasi yang berkembang diatas, sebenarnya masyarakat sdah harus bisa berkaca dari jumlah korban yang berjatuhan, bahwa Pandemi ini adalah benar adanya dan Pandemi ini bisa sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Kita sejatinya harus bisa melihat bagaimana kerja keras dari para tenaga kesehatan yang ada di garda depan yang mengorbankan nyawa (Jika Tidak Percaya kepada Pemerintah), kita bisa membantu mereka dengan mengikuti pedoman - pedoman anjuran kesehatan yang ada, tidak hanya menyebarkan spekulasi - spekulasi yang belum tentu benar atau tidak. Cukup untuk teori - teori Konspirasi yang di dapatkan di cerna oleh diri individual saja, karena jika menyebarkan spekulasi - spekulasi tanpa tau benar atau tidaknya, sama saja dengan menghalangi para tenaga kesehatan dalam penyembuhan Pandemi COVID - 19, secara tidak langsung mengakibatkan korban jauh bertambah karena Fakta - fakta tak jelas yang di sebarkan. Karena Informasi yang tepat berdampak pada penanganan yang tepat, Informasi yang salah berakibat pada sikap yang salah pula.
(Di Tujukan Untuk Para Tenaga medis dan elemen terkait yang berjuang di garda depan untuk menangani Pandemi ini)

Komentar
Posting Komentar